RADEN PANJI TIRTOKUSUMO
desa recobanteng – suwaru – pagelaran
Malang – jawa timur
Ikuti Blog Saya
Kerajaan Singasari merupakan Kerajaan yang berada di Jawa Timur tahun 1222 dan didirikan oleh Ken Arok. Diperkirakan lokasi Kerajaan ini berada di daerah Singasari, Malang. Nama Kerajaan yang sebenarnya adalah Kerajaan Tumapel dan beribukota di Kutaraja.
Awalnya Kerajaan Tumapel merupakan sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri dan waktu itu Tunggul Ametung menjabat sebagai akuwu atau setara camat. Beliau dibunuh dengan cara ditipu oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok yang kemudian menjabat sebagai akuwu baru.
Kerajaan ini pernah berjaya pada masa kepemimpinan Kertanagara yang sekaligus menjadi raja terbesar dalam sejarah Kerajaan. Beliau mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk membuat Sumatera sebagai benteng pertahanan. Kemudian pada tahun 1284, beliau juga mengadakan ekspedisi untuk menaklukkan Bali.
Runtuhnya Kerajaan ini adalah akibat dari sibuknya mengirim angkatan perang ke luar Jawa serta pemberontakan Jayakatwang dan berhasil membunuh Raja Kertanegara. Jayakatwang kemudian membangun ibukota di Kadiri atau yang sekarang disebut Kediri.
Sebelum Ken Arok lahir ayahnya telah meninggal dunia saat ia dalam kandungan, dan saat itu Ken Ndok telah direbut oleh raja Kediri. Oleh ibunya, bayi Ken Arok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.
Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang lihai mencuri dan gemar berjudi, sehingga membebani Lembong dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya. Ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi dari desa Karuman (sekarang Garum, Blitar) yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan.
Ken Arok tidak betah hidup menjadi anak angkat Genukbuntu, istri tua Bango Samparan dan Istri mudanya bernama Thirthaja. Istri muda Bango Samparan mempunyai 5 anak, yaitu Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal, Panji Kenengkung dan yang bungsu wanita bernama Cucupuranti. Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng, sekarang Senggreng, Sumberpucung, Malang. Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.
Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya. Berdasarkan Serat Pararaton juga, Ken Arok (disebut pula Ken Aŋgrok) digambarkan juga sebagai keturunan Dewa Brahma. Hal ini hanya untuk simbolis menggambarkan perbedaan status sosial kognitif si calon raja di kemudian hari daripada anak-anak seusianya saat itu.
SEJAK kemunculan ken arok sng raja singosari malang itu, ada sesuatu hal yg tdk di sukai oleh pamandanya yg kebetulan juga ada di wilayah garum blitar yg tak di tulis namanya. dia adalah adik kandung dari ibunya KEN NDOK. dia org pertama yg menentang sikap dan perangai ken arok saat telah menjadi raja. tp ken arok tidak pernah membantah dg sikap pamandanya itu. sehingga suatu ketika pamandanya tidak pernah lagi mengikuti semua aturan dari ken arok kala masuk ke kawasan singosari itu. dan dia mencari sebuah tempat untuk bermukim dan bersemedi di suatu tempat yg tdk bisa di tulis nama desanya karna kala itu masih berupa hutan belantara. dan di hutan itu ada bongkahan batu yg berbentuk lembu dalam keadaan tdk rapi. batu itulah yg kini di sinyalir sbg batu RECO yg berbentuk kerbau banteng.
SEDANGKAN yg terlihat jelas foto di atas itu adalah makam tempat wafatnya pamanda ken arok ( adik dari ibu nya KEN NDOK ) yakni R.Panji Tirto Kusumo. makam hening itu tdk pernah di ketahui siapapun kala itu. ternyata di tanah ladang itu ada tempat bersemayamnya leluhur dari ken arok yg tdk pernah di sebut dalam sejarah tertulis karna beliau bukanlah bagian dari tokoh penting di kerajaan melainkan hanya keluarga dekat yg memg tidak pernah di sebutkan namanya dan juga tidak pernah di kupas oleh siapapun juga hingga kini. dan bukti dari batu tulis dan arca, candi dan juga tanda2nya juga tdk ada. hanya kedatangannya saja yg berulang kali muncul di jam dan waktu yg sama. menyebutkan dirinya sbg RADEN PANJI TIRTO KUSUMO.
Ken Arok dikenal sebagai pendiri Dinasti Rajasa, yakni dinasti yang menurunkan raja-raja Singhasari dan Majapahit hingga abad ke-16. Para raja Demak, Pajang, dan Mataram Islam, juga merupakan keturunan Dinasti Rajasa.
Nama Rajasa selain dijumpai dalam kedua naskah sastra di atas, juga dijumpai dalam prasasti Balawi yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit tahun 1305. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota Wangsa Rajasa. Raden Wijaya memang adalah keturunan Ken Arok.
Nama Ken Arok memang hanya dijumpai dalam Pararaton, sehingga diduga kuat merupakan ciptaan si pengarang sebagai nama asli Rajasa. Arok diduga berasal dari kata rok yang artinya “berkelahi”. Tokoh Ken Arok memang dikisahkan nakal dan gemar berkelahi.
Pengarang Pararaton sengaja menciptakan tokoh Ken Arok sebagai masa muda Sang Rajasa dengan penuh keistimewaan. Kasus yang sama terjadi pula pada Babad Tanah Jawi di mana leluhur raja-raja Kesultanan Mataram dikisahkan sebagai manusia-manusia pilihan yang penuh dengan keistimewaan. Ken Arok sendiri diberitakan sebagai putra Brahma, titisan Wisnu, serta penjelmaan Siwa, sehingga seolah-olah kekuatan Trimurti berkumpul dalam dirinya.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah Ken Arok, dapat ditarik kesimpulan kalau pendiri Kerajaan Tumapel merupakan perkawinan seorang bangsawan yang dipercaya sebagai titisan Dewa Brahma dengan seorang rakyat jelata, namun memiliki keberanian dan kecerdasan di atas rata-rata sehingga dapat mengantarkan dirinya sebagai pembangun suatu dinasti baru yang menggantikan dominasi keturunan Airlangga dalam memerintah pulau Jawa.
Nama Ken Arok ternyata tidak terdapat dalam Nagarakretagama (1365). Naskah tersebut hanya memberitakan bahwa pendiri Kerajaan Tumapel merupakan putra Bhatara Girinatha yang lahir tanpa ibu pada tahun 1182.
Pada tahun 1222 Sang Girinathaputra mengalahkan Kertajaya raja Kadiri. Ia kemudian menjadi raja pertama di Tumapel bergelar Sri Ranggah Rajasa. Ibu kota kerajaannya disebut Kutaraja (pada tahun 1254 diganti menjadi Singasari oleh Wisnuwardhana).
Sri Ranggah Rajasa meninggal dunia pada tahun 1227 (selisih 20 tahun dibandingkan berita dalam Pararaton). Untuk memuliakan arwahnya didirikan candi di Kagenengan, di mana ia dipuja sebagai Siwa, dan di Usana, di mana ia dipuja sebagai Buddha.
Kematian Sang Rajasa dalam Nagarakretagama terkesan wajar tanpa pembunuhan. Hal ini dapat dimaklumi karena naskah tersebut merupakan sastra pujian untuk keluarga besar Hayam Wuruk, sehingga peristiwa pembunuhan terhadap leluhur raja-raja Majapahit dianggap aib.
Adanya peristiwa pembunuhan terhadap Sang Rajasa dalam Pararaton diperkuat oleh prasasti Mula Malurung (1255). Disebutkan dalam prasasti itu, nama pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa yang meninggal di atas takhta kencana. Berita dalam prasasti ini menunjukkan kalau kematian Sang Rajasa memang tidak sewajarnya.
Dapatkan konten baru yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.
